{"pagination":" 1<\/strong> 2<\/a> 3<\/a> ><\/a>  Last ›<\/a>","result":[{"idartikel":"KEU18001202004030142381","judulartikel":"ANOA DATARAN-RENDAH","isiartikel":"

ANOA DATARAN-RENDAH (Anoa depressicornis)<\/em><\/p>\n\n

 <\/p>\n\n

Nama lokal: sapi hutan; bantong (Mongondow); banthonggo tutu (Suwawa)<\/p>\n\n

Nama Inggris: Lowland Anoa; Anoa<\/p>\n\n

Endemik Sulawesi - status: genting (EN)<\/p>\n\n

Deskripsi<\/p>\n\n

Anoa dataran-rendah merupakan kelompok mamalia dalam keluarga kerbau (Bovidae). Tubuhnya gempal dan kekar dengan tanduk yang bulat pipih runcing. Panjang tubuh anoa dapat mencapai satu meter dan tinggi sekitar 90 centimeter. Anoa dataran-rendah dewasa umumnya berwarna coklat gelap sampai hitam, dengan putih di leher seperti kalung serta putih pula pada tungkai-tungkai bagian bawah.<\/p>\n\n

Persebaran dan populasi<\/p>\n\n

Anoa dataran-rendah merupakan mamalia endemik sulawesi yang tersebar sebagian sulawesi bagian utara, tengah, dan tenggara. Beberapa lokasi di Sulawesi Tenggara diyakini punah secara lokal. Populasinya diperkirakan terus menurun dan besar populasi diperkirakan pula tidak lebih dari 2.500 individu dewasa di alam. Walaupun sulit dijumpai secara langsung, namun hasil survei menggunakan kamera penjebak di dalam kawasan TN Bogani Nani Wartabone, anoa dataran-rendah terlihat tersebar cukup merata di hutan-hutan primer.<\/p>\n\n

Habitat dan ekologi<\/p>\n\n

Anoa dataran-rendah memiliki habitat hutan primer sulawesi. Penciumannya diduga sangat tajam sehingga sangat sulit dijumpai secara langsung. Mereka juga biasa datang ke lokasi-lokasi bergaram untuk minum air garam sebagai upaya pemenuhan kebutuhan mineral mereka. Mereka hidup soliter atau menyendiri. Seperti keluarga kerbau, anoa juga berkubang dan mandi di genangan air dan\/atau lumpur. Beberapa laporan menyebutkan  anoa meminum air laut.<\/p>\n\n

Ancaman<\/p>\n\n

Secara global, anoa dataran-rendah termasuk dalam status genting (EN - Endangered<\/em>) menurut kategori IUCN, yang terancam karena berkurangnya hutan-hutan primer di Sulawesi akibat pembalakan <\/em>dan perubahan hutan ke lahan budidaya. Perburuan masih sering terjadi, khususnya untuk konsumsi, hal inilah yang diperkirakan menyebabkan kepunahan lokal di beberapa lokasi.<\/p>\n\n

Upaya konservasi<\/p>\n\n

Anoa dataran-rendah sangat membutuhkan hutan primer sebagai lokasi jelajah serta tempat lokasi-lokasi berkubang dan bergaram mereka yang sangat penting. Untuk itu mempertahankan hutan primer yang tersisa di Sulawesi sangat penting sebabagi upaya konservasi mereka, di samping menghentikan perburuan yang masih terjadi secara masif di beberapa tempat. Anoa dataran-rendah termasuk jenis yang dilindungi berdasarkan PP7\/1999 dan perubahan lampirannya pada P106\/2018.<\/p>\n\n

Teks: Hanom Bashari – EPASS project<\/em> BNW<\/p>\n\n

Foto : Ardin Mokodompit<\/p>\n\n

Editor : Agung Muji P<\/p>\n\n

Sumber pustaka: https:\/\/www.iucnredlist.org\/species\/3126\/46364222<\/p>\n\n

Update<\/em>: April 2020<\/p>\n\n

 <\/p>\n","jenisartikel":"satwa","paththumbnail":"KEU18001bg2020bg04bg03bg01bg42bg38bg1bg0.JPG","folder":"20200403014238","userinput":"KEU18001","waktuinput":"2020-04-03 03:41:07"},{"idartikel":"KEU18001202004030148192","judulartikel":"BABIRUSA SULAWESI","isiartikel":"

BABIRUSA SULAWESI (Babyrousa celebensis)<\/em><\/p>\n\n

 <\/p>\n\n

Nama lokal: babiputih; babibudo’; boke dogami (Mongondow); hulangio (Suwawa)<\/p>\n\n

Nama Inggris: Sulawesi Babirusa, North Sulawesi Babirusa<\/p>\n\n

Endemik Sulawesi - status: rentan (VU)<\/p>\n\n

Deskripsi<\/p>\n\n

Babirusa sulawesi merupakan kelompok mamalia dalam keluarga Suidae. Panjang babirusa dapat mencapat 1 m dengan tinggi sekitar 65-80 cm dan berat dapat mencapai 90 kg. Tubuhnya lebih terlihat berwarna putih dengan rambut yang jarang dibandingkan babi-hutan sulawesi. Babirusa juga dikenal dengan dua pasang gigi taringnya yang mencuat membesar, melengkung dan menembus ke atas. Bahkan individu jantan memiliki gigi taring atas yang melengkung menembus rahang atasnya.<\/p>\n\n

Persebaran dan populasi<\/p>\n\n

Babirusa sulawesi merupakan endemik Sulawesi yang tersebar di suluruh Sulawesi kecuali bagian semenanjung selatan. Di sebagian Sulawesi Utara, Buton dan Muna diperkirakan sudah punah secara lokal. Populasi globalnya di seluruh sulawesi diperkirakan mengalami penurunan dengan besar populasi diperkirakan tidak lebih dari 10.000 individu dewasa. Kawasan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone merupakan salah satu kawasan konservasi terpenting untuk melindungi jenis ini. Mereka dapat dijumpai hampir di semua wilayah berhutan kawasan ini. Lokasi-lokasi kubangan dan salt-lick<\/em> mereka banyak tersebar di dalam kawasan ini, dari yang kecil sampai yang komunal.<\/p>\n\n

Habitat dan ekologi<\/p>\n\n

Babirusa sulawesi hanya dapat dijumpai di hutan-hutan primer sulawesi dataran rendah dan pegunungan. Mereka hidup berkelompok, baik kelompok kecil jantan betina dan 2-3 anak sampai kelompok besar. Biasa mengunjungi kubangan lumpur ataupun daerah salt-lick<\/em> untuk meminum air bergaram sebagai kebutuhan mineral. Babirusa dikenal sebagai satwa omnivora, mengkonsumsi berbagai daun, akar, buah hutan, dan beragam satwa kecil (invertebrata dan vertebrata).<\/p>\n\n

Ancaman<\/p>\n\n

Secara global, babirusa sulawesi termasuk dalam katogori rentan (VU - Vulnarable<\/em>) yang terancam karena berkurangnya hutan-hutan primer di Sulawesi akibat pembalakan dan perubahan hutan ke lahan budidaya. Perburuan masih sering terjadi, khususnya untuk konsumsi, hal inilah yang diperkirakan menyebabkan kepunahan lokal di beberapa lokasi.<\/p>\n\n

Upaya konservasi<\/p>\n\n

Babirusa sulawesi sangat membutuhkan hutan primer sebagai lokasi jelajah serta tempat lokasi –lokasi berkubang dan bergaram mereka yang sangat penting. Untuk itu mempertahankan hutan primer yang tersisa di Sulawesi sangat penting sebabagi upaya konservasi mereka, di samping menghentikan perburuan yang masih terjadi secara masif di beberapa tempat. Babirusa sulawesi termasuk jenis yang dilindungi berdasarkan PP7\/1999 dan perubahan lampirannya P106\/2018.<\/p>\n\n

 <\/p>\n\n

Teks: Hanom Bashari – EPASS project<\/em> BNW<\/p>\n\n

Foto : Ardin Mokodompit<\/p>\n\n

Editor : Agung Muji P<\/p>\n\n

Sumber: https:\/\/www.iucnredlist.org\/species\/136446\/44142964<\/p>\n\n

Update<\/em>:  April 2020<\/p>\n\n

 <\/p>\n","jenisartikel":"satwa","paththumbnail":"KEU18001bg2020bg04bg03bg01bg48bg19bg2bg0.JPG","folder":"20200403014819","userinput":"KEU18001","waktuinput":"2020-04-03 03:41:24"},{"idartikel":"KEU18001202004030156023","judulartikel":"CEKAKAK TUNGGIR-HIJAU","isiartikel":"

CEKAKAK TUNGGIR-HIJAU (Actenoides monachus<\/em><\/p>\n\n

)<\/p>\n\n

Nama Inggris: Blue-headed Kingfisher; Green-backed Kingfisher<\/p>\n\n

Endemik Sulawesi bagian utara dan tengah - status: hampir terancam (NT)<\/p>\n\n

Deskripsi<\/p>\n\n

Cekakak tunggir-hijau (31.5-33cm) merupakan kelompok burung raja udang (Alcedinidae) yang cukup besar. Kepala biru mentereng dengan sayap dan punggung coklat kehijauan (olive) menjadi ciri khasnya, di samping warna perut karat dan paruh merahnya yang terlihat kokoh.<\/p>\n\n

Persebaran dan populasi<\/p>\n\n

Cekakak tunggir-hijau endemik Sulawesi atau hanya tersebar secara alami di Pulau Sulawesi, namun hanya di Sulawesi bagian utara dan tengah.  Populasinya belum dapat diperkirakan, namun diduga mengalami penurunan. Taman Nasional Bogani Nani Wartabone termasuk lokasi persebaran terpenting mereka. Di dalam taman nasional ini, mereka dapat dijumpai hampir di semua lokasi kawasan, seperti Tambun, Toraut, Hungayono, dan sebagainya. Bahkan kadang-kadang mereka masih dapat dijumpai di pinggir hutan.<\/p>\n\n

Habitat dan ekologi<\/p>\n\n

Cekakak tunggir-hijau biasa dijumpai hanya di hutan-hutan primer dan sekunder, sampai ketinggian 900 mdpl. Di pagi hari, siulannya sendunya sering terdengar menyayat sedih. Mereka dapat dijumpai di strata tengah hutan, biasa bertengger di batang-batang bambu hutan yang melintang atau dahan-dahan pendek. Umumnya terlihat sendiri dan terbang pendek-pendek untuk berpindah jika mendapat gangguan. Mereka pemakan serangga besar walaupun seringkali juga terlihat memakan cacing-cacing besar di lantai hutan.<\/p>\n\n

Ancaman<\/p>\n\n

Secara global, cekakak tunggir-hijau termasuk dalam kategori hampir terancam (NT – Near Threatened<\/em>), yang diduga terancam akibat perubahan tutupan lahan.<\/p>\n\n

Upaya konservasi<\/p>\n\n

Cekakak tunggir-hijau sangat membutuhkan dukungan upaya-upaya konservasi, khususnya dari perubahan tutupan hutan. Cekakak tunggir-hijau termasuk jenis yang dilindungi berdasarkan PP7\/1999 dan perubahan lampirannya P106\/2018.<\/p>\n\n

 <\/p>\n\n

Teks: Hanom Bashari – EPASS project<\/em> BNW<\/p>\n\n

Foto : Max Welly Lela, dan Anggota Resort Pinogaluman<\/p>\n\n

Editor : Agung Muji P<\/p>\n\n

Sumber: Coates & Bishop 1992; http:\/\/datazone.birdlife.org\/species\/factsheet\/blue-headed-kingfisher-actenoides-monachus; https:\/\/www.iucnredlist.org\/species\/22726852\/132030948<\/p>\n\n

Update<\/em>: April 2020<\/p>\n\n

 <\/p>\n\n

 <\/p>\n\n

 <\/p>\n\n

 <\/p>\n","jenisartikel":"satwa","paththumbnail":"KEU18001bg2020bg04bg03bg01bg56bg02bg3bg0.jpg","folder":"20200403015602","userinput":"KEU18001","waktuinput":"2020-04-03 03:41:45"},{"idartikel":"KEU18001202004030300164","judulartikel":"JULANG SULAWESI","isiartikel":"

JULANG SULAWESI (Rhyticeros cassidix)<\/em><\/p>\n\n

 <\/p>\n\n

Sinonim: Aceros cassidix<\/em><\/p>\n\n

Nama lokal: burung taon; alo; kalou (Mongondow); tangao (Suwawa)<\/p>\n\n

Nama Inggris: Knobbed Hornbill, Sulawesi Red-knobbed Hornbill<\/p>\n\n

Endemik Sulawesi - status: rentan (VU)<\/p>\n\n

Deskripsi<\/p>\n\n

Julang sulawesi termasuk dalam kelompok rangkong (Bucerotidae<\/em>) dari 13 jenis rangkong yang ada di Indonesia. Jenis ini sangat mudah dikenali dari bentuk badannya yang besar, dapat mencapai sekitar satu meter. Sayap dan seluruh badannya berwana hitam dengan ekor putih. Sang jantan memiliki leher kuning kecoklatan dengan paruh kuning, tembolok biru cerah, dan cula di atas paruhnya yang merah menyala. Betina sedikit berbeda, dengan leher hitam dan tanduk kepala kuning. Jantan betina hampir selalu terlihat bersama, kadangkala saling bersahutan dengan suara yang keras.<\/p>\n\n

Persebaran dan populasi<\/p>\n\n

Julang sulawesi jenis endemik Sulawesi, tersebar di seluruh pulau Sulawesi, termasuk Lembeh, Kep. Togean, Buton dan Muna. Populasi mereka secara pasti belum diketahui, namun diduga mengalami penurunan sampai 40% dalam lebih dari 3 generasi kehidupan mereka belakang ini. Di dalam TN Bogani Nani Wartabone, jenis ini hampir dapat dijumpai di seluruh kawasan, namun dapat mudah dijumpai seperti di daerah Tapakolintang, Muara Pusian, dan sekitar Tulabolo.<\/p>\n\n

Habitat dan ekologi<\/p>\n\n

Julang sulawesi sangat memerlukan hutan primer yang baik, walaupun masih dapat dijumpai di hutan-hutan sekunder. Dapat dijumpai sampai ketinggian 1.800 mdpl, walau lebih mudah dijumpai di dataran rendah. Hutan primer mereka butuhkan untuk menyediakan pohon-pohon besar seperti pohon roa, kenari, matoa dan sebagainya untuk digunakan sebagai lubang-lubang sarang mereka saat berbiak. Mereka juga sangat menyukai beragam jenis beringin (Ficus<\/em> spp.) sebagai makanannya, bahkan dapat berkumpul dalam jumlah besar pada pohon-pohon beringin yang sedang berbuah. Mereka juga biasa berkumpul di satu tempat ketika tidur.<\/p>\n\n

Ancaman<\/p>\n\n

Secara global, julang sulawesi termasuk dalam katogori rentan (VU - Vulnarable<\/em>) yang terancam karena berkurangnya hutan-hutan primer di Sulawesi akibat logging<\/em> dan perubahan hutan ke lahan budidaya. Perburuan kadangkala masih terjadi, khususnya untuk satwa piaraan.<\/p>\n\n

Upaya konservasi<\/p>\n\n

Julang sulawesi sangat membutuhkan hutan primer, untuk itu mempertahankan hutan primer yang tersisa di Sulawesi sangat penting sebabagi upaya konservasi mereka, di samping menghentikan perburuan yang masih terjadi di beberapa tempat. Julang sulawesi termasuk jenis yang dilindungi berdasarkan PP7\/1999 dan perubahan lampirannya P106\/2018.<\/p>\n\n

 <\/p>\n\n

Teks: Hanom Bashari – EPASS project<\/em> BNW<\/p>\n\n

Foto : Ardin Mokodompit<\/p>\n\n

Editor : Agung Muji P<\/p>\n\n

Sumber: Coates & Bishop 1992; http:\/\/datazone.birdlife.org\/species\/factsheet\/knobbed-hornbill-rhyticeros-cassidix ; https:\/\/www.iucnredlist.org\/species\/22682525\/22843729<\/p>\n\n

Update<\/em>: April 2020<\/p>\n\n

 <\/p>\n","jenisartikel":"satwa","paththumbnail":"KEU18001bg2020bg04bg03bg03bg00bg16bg4bg0.jpg","folder":"20200403030016","userinput":"KEU18001","waktuinput":"2020-04-03 03:42:23"},{"idartikel":"KEU18001202004030310285","judulartikel":"KANGKARENG SULAWESI","isiartikel":"

KANGKARENG SULAWESI (Rhabdotorrhinus exarhatus)<\/em><\/p>\n\n

 <\/p>\n\n

Sinonim: Penelopides exarhatus<\/em><\/p>\n\n

Nama lokal: ileile; kado-kado (Suwawa)<\/p>\n\n

Nama Inggris: Sulawesi Hornbill; Sulawesi Dwarf Hornbill; Sulawesi Tarictic Hornbill<\/p>\n\n

Endemik Sulawesi - status: rentan (VU)<\/p>\n\n

Deskripsi<\/p>\n\n

Kangkareng sulawesi termasuk dalam keluarga rangkong (Bucerotidae<\/em>), namun termasuk yang berukuran kecil (sekitar 53 cm). Hampir seluruh tubuhnya berwarna hitam kecuali bagian muka individu jantan yang kuning cerah, sedangkan betina seluruhnya hitam. Seperti jenis rangkong lain, kangkareng sulawesi juga sering terlihat berpasangan atau dalam kelompok kecil, terbang antar pohon yang tidak terlalu jauh, sambil biasanya bersuara keras nyaring yang khas.<\/p>\n\n

Persebaran dan populasi<\/p>\n\n

Kangkareng sulawesi merupakan jenis endemik sulawesi, termasuk beberapa pulau satelitnya, yaitu Lembeh, Muna, dan Buton. Populasi belum dapat diperkirakan, walau secara lokal kadang-kadang terlihat sangat umum. Di Taman Nasional Bogani Nani Wartabone, jenis ini cukup mudah dijumpai di Muara Pusian dan Toraut walaupun hampir di semua lokasi berhutan baik mereka dapat dijumpai di dalam kawasan.<\/p>\n\n

Habitat dan ekologi<\/p>\n\n

Kangkareng sulawesi menempati hutan-hutan primer dan sekunder Sulawesi, yang tersebar mulai dari dataran rendah (sekitar 100 mdpl) sampai daerah-daerah pegunungan (1.100 mdpl), walaupun biasanya lebih mudah dijumpai di pegunungan. Seperti halnya jenis rangkong lain, mereka membutuhkan hutan primer yang menyediakan pohon-pohon besar berlubang untuk sarang mereka berbiak. Mereka juga biasa berkumpul di satu tempat ketika tidur.<\/p>\n\n

Ancaman<\/p>\n\n

Secara global, kangkareng sulawesi termasuk dalam katogori rentan (VU - Vulnarable<\/em>) yang terancam karena berkurangnya hutan-hutan primer di Sulawesi akibat logging<\/em> dan perubahan hutan ke lahan budidaya. Perburuan kadangkala masih terjadi, khususnya untuk satwa piaraan.<\/p>\n\n

Upaya konservasi<\/p>\n\n

Kangkareng sulawesi sangat membutuhkan hutan primer, untuk itu mempertahankan hutan primer yang tersisa di Sulawesi sangat penting sebabagi upaya konservasi mereka, di samping menghentikan perburuan yang masih terjadi di beberapa tempat. Kangkareng sulawesi termasuk jenis yang dilindungi berdasarkan PP7\/1999 dan perubahan lampirannya P106\/2018.<\/p>\n\n

 <\/p>\n\n

Teks: Hanom Bashari – EPASS project<\/em> BNW<\/p>\n\n

Foto : Resort Pinogaluman<\/p>\n\n

Editor : Agung Muji P<\/p>\n\n

Sumber: Coates & Bishop 1992; http:\/\/datazone.birdlife.org\/species\/factsheet\/sulawesi-hornbill-rhabdotorrhinus-exarhatus<\/p>\n\n

Update<\/em>: April 2020<\/p>\n\n

 <\/p>\n","jenisartikel":"satwa","paththumbnail":"KEU18001bg2020bg04bg03bg03bg10bg28bg5bg0.jpg","folder":"20200403031028","userinput":"KEU18001","waktuinput":"2020-04-03 03:42:42"},{"idartikel":"KEU18001202004030313266","judulartikel":"MONYET-HITAM GORONTALO","isiartikel":"

MONYET-HITAM GORONTALO (Macaca nigrescens)<\/em><\/p>\n\n

 <\/p>\n\n

Nama lokal: yaki; bolai (Mongondow); bola (Suwawa); dihe (Gorontalo)<\/p>\n\n

Nama Inggris: Gorontalo Macaque<\/p>\n\n

Endemik lanskap Bogani Nani Wartabone - status: rentan (VU)<\/p>\n\n

Deskripsi<\/p>\n\n

Monyet-hitam gorontalo sering disalah deskripsikan sebagai monyet-hitam sulawesi (Macaca nigra<\/em>). Secara fisik, monyet hitam gorontalo lebih sedikit kemerahan serta jambul yang tidak terlalu mencolok tinggi. Ketika musim berbiak pun, bantalan pantai monyet-hitam gorontalo tidak terlalu besar dan merah seperti monyet-hitam Sulawesi.<\/p>\n\n

Persebaran dan populasi<\/p>\n\n

Monyet-hitam gorontalo dapat dikatakan endemik lanskap Bogani Nani Wartabone, karena memang terbatas hanya berada di dalam kawasan TN Bogani Nani Wartabone  dan hutan-hutan di sekitarnya. Di dalam kawasan TN Bogani Nani Wartabone, khususnya di bagian timur, wilayah sebaran jenis ini masih saling beririsan dengan wilayah sebaran monyet-hitam sulawesi. Secara umum, jenis ini cukup mudah dijumpai di dalam kawasan TN Bogani Nani Wartabone. Belum ada perhitungan pasti jumlah populasinya, walaupun dalam perkiraan IUCN (2000) dikatakan kecenderungan populasinya menurun.<\/p>\n\n

Habitat dan ekologi<\/p>\n\n

Monyet-hitam gorontalo mendiami hutan sekunder dan primer sampai ketinggian 2.000 mdpl, namun kadangkala juga datang sampai ke perkebunan maupun permukiman penduduk di sekitar hutan. Mereka pemakan buah atau frugivora (70 persen dari makanan mereka), namun juga memakan pucuk daun, arthropoda, bunga, bahkan memakan produk budidaya pertanian manusia seperti sayuran, buah-buahan, termasuk jagung.<\/p>\n\n

Ancaman<\/p>\n\n

Secara global, monyet-hitam gorontalo termasuk dalam katogori rentan (VU – Vulnarable<\/em>). Di beberapa lokasi, mereka masih menjadi sasaran perburuan dan perdagangan untuk konsumsi mapun satwa piaraan.<\/p>\n\n

Upaya konservasi<\/p>\n\n

Monyet-hitam gorontalo sangat tergantung pada keberadaan hutan, baik primer maupun sekunder, sehingga keberadaan area konservasi seperti kawasan TN Bogani Nani Wartabone sangat penting bagi mereka. Selain itu, upaya-upaya pencegahan perburuan dan perdagangan mereka, seperti kegiatan patrol di sekitar dan di dalam kawasan TN Bogani Nani Wartabone, sangat penting dalam upaya mempertahankan kelestarian mereka. <\/p>\n\n

Teks: Hanom Bashari – EPASS project<\/em> BNW<\/p>\n\n

Foto : Ardin Mokodompit<\/p>\n\n

Editor : Agung Muji P<\/p>\n\n

Sumber: https:\/\/www.iucnredlist.org\/species\/12568\/3360226<\/p>\n\n

Update<\/em>: April 2020<\/p>\n\n

 <\/p>\n","jenisartikel":"satwa","paththumbnail":"KEU18001bg2020bg04bg03bg03bg13bg26bg6bg0.JPG","folder":"20200403031326","userinput":"KEU18001","waktuinput":"2020-04-03 03:13:26"}],"row":0}